Berita

MULTIMEDIA

MUSLIMAH

Latest Updates

Showing posts with label Tsaqofah Islam. Show all posts
Showing posts with label Tsaqofah Islam. Show all posts

Lawan Korupsi dengan #IslamRhamatanLil'alamin !

10:59

UkmiAlfatah - Assalamu'alaikum Sahabat 'Uktahapakah anda pernah korupsi? tentu kami berharap tidak. karena sesungguhnya korupsi adalah perbuatan tercela yang sangat jelas Rasulullah melaknat pelakunya, 

Di negeri kita yang tercinta ini 'korupsi' merupakan suatu hal yang banyak penggemar dan peminatnya. tidak heran Per 31 Januari 2016, di tahun 2016 KPK melakukan penyelidikan 10 perkara, penyidikan 7 perkara, penuntutan 7 perkara, inkracht 1 perkara, dan eksekusi 5 perkara. Dan total penanganan perkara tindak pidana korupsi dari tahun 2004-2016 adalah penyelidikan 762 perkara, penyidikan 475 perkara, penuntutan 396 perkara, inkracht 321 perkara, dan eksekusi 338 perkara. [http://acch.kpk.go.id/statistik]

Data diatas merupakan bukti bahwa negeri kita ini gawat & Sekarat 'korupsi'. yang mana kalau sesuatu yang gawat & Sekarat harus segera dicari Solusinya.
Sebelum kita membahas solusinya, kita lihat terlbih dahulu bagaimana pandangan Islam terkait 'korupsi'.

PENJELASAN,

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقاً فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

"Barangsiapa yang kami tugaskan dengan suatu pekerjaan, lalu kami tetapkan imbalan (gaji) untuknya, maka apa yang dia ambil di luar itu adalah harta ghulul (korupsi)".

Asy Syaukani menjelaskan, dalam hadits ini terdapat dalil tidak halalnya (haram) bagi pekerja (petugas) mengambil tambahan di luar imbalan (upah) yang telah ditetapkan oleh orang yang menugaskannya, dan apa yang diambilnya di luar itu adalah ghulul (korupsi).

Dalam hadits tersebut maupun di atas, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan secara global bentuk pekerjaan atau tugas yang dimaksud. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa peluang melakukan korupsi (ghulul) itu ada dalam setiap pekerjaan dan tugas, terutama pekerjaan dan tugas yang menghasilkan harta atau yang berurusan dengannya. Misalnya, tugas mengumpulkan zakat harta, yang bisa jadi bila petugas tersebut tidak jujur, dia dapat menyembunyikan sebagian yang telah dikumpulkan dari harta zakat tersebut, dan tidak menyerahkan kepada pimpinan yang menugaskannya. contoh lain, dalam konteks kenegaraan saat ini setiap kita terikat dengan wajib pajak. Seperti semboyan NKRI 'dari kita - oleh kita - untuk kita'. ini lah mengapa kita masyarakat indonesia harus berkontribusi dalam membangun negara (bayar pajak).

dalam pandangan Islam pajak itu sendiri tidaklah salah. namun, pada masa dulu saat Islam punya Institusi sendiri (negara), kas negara sangat-sangatlah cukup bahkan masyarakatnya hidup serba berkecukupan. sehingga tidak perlu dilakukan pemungutan pajak.

nah kalau kita lihat kondisi negara kita saat ini, kas negara mengalami defisit yang sangat luar biasa.
tercatat pada Jumat (13/2) lalu pemerintah menargetkan dapat menekan defisit anggaran hingga 1,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau sebesar Rp222,5 triliun. [www.kemenkeu.go.id]
sehingga jangan heran, masyarakat juga ikut dibebankan membayar pajak. 

Sangat berbeda dengan negara Islam dahulu. pemimpin negara islam saat itu hidup sangat sederhana. mereka sangat takut dengan Allah, maka tak heran mereka tidak berani mengambil yang bukan haknya karena Sang Maha tahu mengawasi mereka.

Berbeda dengan pemimpin kita sekarang. mereka Islam? ya mereka Islam. Tapi mereka hanya takut kepada manusia. maka ketika mereka mengambil yang bukan haknya tidak ada rasa takut sama sekali karena mereka merasa tidak ada yang mengawasinya.


didalam Al-qur'an Allah juga sangat jelas mengatakan,

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ
"Tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu), maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu …" [Ali Imran: 161].

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta'ala mengeluarkan pernyataan bahwa, semua nabi Allah terbebas dari sifat khianat, di antaranya dalam urusan rampasan perang.

Selain itu, perbuatan korupsi (ghulul) ini termasuk dalam kategori memakan harta manusia dengan cara batil yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana dalam firmanNya :

وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقاً مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْأِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui" [al Baqarah/2:188]

HUKUMANNYA,

Sesuai firman Allah firman Allah dalam surat Al Maaidah ayat 33,

إِنَّمَا جَزَاؤُا الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي اْلأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُواْ
أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْتُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلاَفٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ اْلأَرْضِ ذَالِكَ
لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RosulNya dan membuat kerusakan di muka bumi , bagi pembunuh hendaknya dibunuh, bagi perampok yang membunuh korbannya hendaknya disalibkan , bagi perampok yang hanya merampas harta korbannya maka hukum mannya dipotong tangan dan kakinya secara bersilangan sebatas pergelangannya “.

Dianalogikan dengan pencurian, maka hukumnya adalah potong tangan sebatas pergelangan apabila telah mencapai satu nishab ( 93,6 gram emas).

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيْمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri maka potonglah tangan keduanya sampai pembalasan bagi apa yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah dan Allah maha perkasa lagi bijaksana

SOLUSINYA,

Kita semua harus kembali kepada Islam.
Karena ketika seorang pemimpin yang takunya hanya kepada Allah, Insya Allah ia tidak akan berani ‘korupsi’. Karena Allah melaknat manusia mengambil yang bukan haknya.

ketika seorang pemimpin yang takunya hanya kepada Allah, maka ia tidak akan diam ketika masyarakatnya jauh dari aturan Allah.

ketika seorang pemimpin yang takunya hanya kepada Allah, maka ia akan menerapkan hukuman atas apa-apa yang dilanggar dengan hukum Allah.

ketika seorang pemimpin yang takunya hanya kepada Allah, ia tentu tahu masyarakat selain Islam juga ciptaan Allah. Sehingga ia akan adil terhadapnya selagi mereka masih taat kepada pemimpinnya.

ketika seorang pemimpin yang takunya hanya kepada Allah, Insya Allah Negeri kita Tercinta ini akan sejahtera dan damai, karena sang pemberi kesejahteraan & kedamaian menurunkan Rahmat-Nya atas INDONESIA.

Karena #IslamRahmatanLil’alamin [a.p-KU]

Rahasia Kesehatan Ulama Dahulu

16:30
Tidur ulama bisa sangat sedikit. Fisik mereka lelah luar biasa. Otak mereka tak pernah berhenti bekerja. Nutrisi makanan m
ereka terkadang apa adanya dan jauh dari kata cukup. Tapi mereka sehat luar biasa. Apa rahasianya?
Ini penuturan murid tentang gurunya. Murid yg mengagumi gurunya.
Ibnu Qoyyim -rohimahulloh- menuturkan tentang kesehatan gurunya; Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh-. Dalam buku yg memaparkan jalan kebahagiaan; Kunci Negeri Kebahagiaan.
Kini kita dengarkan Ibnu Qoyyim langsung yg bertutur:
Aku mendengar syekh kami Abul Abbas Ibnu Taimiyyah rohimahulloh mengajar sementara beliau sedang merasakan sakit.
Dokter berkata kepadanya: "Sakitmu ini akan semakin parah jika kamu bicara tentang ilmu, memikirkannya, fokus padanya dan menghapalnya."
Ibnu Taimiyyah menjawab: "Bukankah kalian yg menyampaikan bahwa jika jiwa kuat dan senang maka ia akan bahagia, saat itulah ia punya kekuatan yg akan dibantu oleh tabiat untuk menolak penyakit yg datang. Ia adalah musuhnya, jika kuat akan mengalahkannya.
Dokter berkata: "Benar"
Ibnu Taimiyyah berkata:
"Jika jiwaku ini sibuk menyampaikan ilmu, menghapalnya, membicarakannya dan berhasil mengurai yg sulit, ia akan bahagia dan kuat sehingga ia akan mampu mengusir penyakit yg datang..!"
(Fisik ini memang punya hak yg harus dipenuhinya. Tapi fisik ini hanyalah prajurit yg digerakkan oleh panglima. Panglimanya adalah jiwa ini.
Maka sehat atau sakitnya fisik ini sangat tergantung bahagia dan sedihnya jiwa ini.
Jika mudah galau, sedih, khawatir, gundah, walau fisik menyantap nutrisi terbaik maka berbagai penyakit siap menyergap.
Maka...
Bahagiakan jiwamu
Karena...
Ini kunci utama kesehatanmu
Jadi...
Lelah bukan masalah!!
Asal lelah pada yg membahagiakan jiwa.
Karena badan ini hanya perlu direbahkan sesaat. Dan setelahnya ia bangkit dalam bahagia dan kesehatan terbaik.
(ustadz budi ashari)

Agar Hati tak Berkarat

12:05

"Sesungguhnya, hati itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat. Rasulullah SAW lalu ditanya: Apa yang bisa membuat hati agar tidak berkarat? Rasul menjawab: Membaca Alquran dan mengingat kematian." (HR al-Baihaqi).

Jangan karena kesibukan dan banyaknya kegiatan menjadikan kita lupa untuk membaca dan mentadaburi al-Qur’an. Sesungguhnya ketenangan dan ketentraman dapat diperoleh dari Al-Qur’an.
Hal ini berdasarkan firman Alloh, “Ingatlah hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram.” (Qs. ar-Ra’d: 28)
Dari Abdullah bin Mas’ud radiallohu ‘anhu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
Dan bahkan, iri terhadap mereka yang telah mengamalkan Al-Qur’an, dibolehkan. Dari Ibnu Umar radiallohu ‘anhu yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasannya beliau bersabda,
“Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang, seseorang yang dianugrahi Alloh Al-Qur’an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang dan seseorang yang dianugerahi Alloh harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu terdapat permisalan yang baik bagi yang membaca Al-Qur’an, karena Rasululloh pernah bersabda, 

“Permisalan seorang muslim yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan labu yang tidak ad wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari Muslim)
Terdapat hikmah yang indah dari perkataan al-Ajuri rahimahullah,
Barang siapa yang merenungi firman-Nya maka ia akan mengenal Rabbnya, akan mengetahui keutamaannya dibandingkan orang orang mukmin yang lain, dia akan menyadari kewajibannya dalam beribadah hingga senantiasa berusaha untuk menjaga kewajiban tersebut. Ia akan berhati-hati terhadap apa yang dilarang Rabb-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya. Barang siapa yang memiliki sifat yang demikian, ketika membaca al-Qur’an dan ketika mendengarkanya, maka Al-Qur’an akan menjadi penawar hatinya, ia akan merasa cukup tanpa harta, mulia tanpa kesulitan, lembut dalam menyikapi orang yang kasar padanya. Orang yang memiliki sifat demikian, ketika ia memulai membaca sebuah surat yang tergambar dibenaknya adalah sejauh mana  dia  dapat mengambil pelajaran terhadap yang dia baca. Tujuannya membaca Al-Qur’an tidak semata-mata untuk mengkhatamkannya akan tetapi seberapa besar ia dapat memahami perintah Alloh dan mengambil pelajaran darinya. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah maka tidaklah pantas membacanya dengan hati yang kosong lagi lalai, dan Allah Ta’ala maha memberi taufik terhadap yang demikian.
 
Wahai saudaraku, jangan sampai waktu kita tidak ada sedikitpun untuk membaca atau membaca Al-Qur’an. Berusahalah, walaupun sedikit waktu tersisa.
***


(Admin



Pacaran Itu Salah

17:36
Ilustrasi. (Foto : corat-coretmakna.blogspot.com)
Akhwatmuslimah.com – Aku ingin membicarakan tentang ayat-ayat dalam surat Al-Furqaan pada tulisan kali ini. Allah s.w.t berfirman:
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),” (Qs. Al-Furqaan[25]: 68-69)
Allah berfirman agar kita tidak berzina dalam ayat ini. Jadi kita tidak boleh melakukan pacaran atau mempunyai hubungan rahasia. Bagi kalian yang belum tahu, sesungguhnya pacaran termasuk zina. Dan zina itu mempunyai tingkatan-tingkatan. Rasulullah s.a.w bersabda:

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (H.R. Muslim, no. 6925)

Ketika kita berpacaran, maka sudah pasti kita melakukan zina mata dengan memandang lawan jenis, zina hati karena ingin melakukan hal yang terlarang dengan lawan jenis, zina tangan karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahram, zina lisan dengan menggoda dan merayu lawan jenis, dan zina telinga dengan mendengar rayuan dan godaan dari lawan jenis.

Jadi kenapa Allah berfirman tentang larangan berzina pada ayat surat Al-Furqaan di atas? Karena bagi sebagian orang, mereka terus-menerus berpacaran dan sulit berhenti. Misalnya ada seorang pemuda tampan. Dia berjalan-jalan di mall dan para gadis yang melihatnya tertawa kecil. Pemuda itu berpikir “Oh, ternyata mudah untuk merebut hati gadis-gadis itu. Tidak ada yang melihat pula.” Namun kita harus menahan diri kita dalam situasi seperti ini. Aku tahu ini memang sulit dilakukan, tapi kalian tetap harus menahan diri.

Atau misalnya seorang gadis berpikir “Pemuda itu memperhatikanku. Dia pasti berpikir aku cantik.” Dan gadis itu mulai tersenyum sendiri, namun gadis itu haruslah menahan dirinya. Ini salah, dia tidak bisa melakukan ini. Meskipun orangtua tidak melihatnya, bukan berarti ini dibolehkan.”

Dan ketika aku ke AS, aku melihat para pemuda yang sedang kuliah. Dan kuliah di musim panas di AS itu BURUK! Disana banyak pemuda berumur 18-19 tahun yang hormonnya masih sangat bergejolak, dan di ruang kelas banyak gadis yang berpakaian tidak senonoh. Sangat besar kemungkinan seorang gadis menghampiri para pemuda dan berkata “Hey, dapatkah kamu membantu mengerjakan PR ini?” Di sinilah para pemuda mendapat ujian dari Allah. Ngomong-ngomong ini bukan hanya di Amerika. Hampir di semua negara para pemuda zaman sekarang mendapatkan ujian keimanan seperti ini.

Kalian juga diuji ketika di mall, atau ketika keluar rumah dan jalan-jalan. Hal ini tak akan mudah, terlebih lagi bagi para pemuda. Mungkin kalian punya teman di HP dan orangtua tidak tahu tentang itu. Mungkin saja kalian punya akun Facebook rahasia dan berteman dengan para gadis. Jika kalian mempunyainya, maka anda harus meng-unfriend semua gadis itu. Yap, kalian harus melakukannya! Saya serius! Kalian harus meng-unfriend mereka semua.

Dan jangan hubungi mereka lagi, jangan chatting atau SMS mereka lagi. Mereka kemungkinan besar akan berkata “Apa yang terjadi? Apakah kamu tidak menyukaiku lagi?” Dan bahkan jangan balas pesannya “Tidak, tidak, ini bukan karenamu, ini karena ajaran Islam.” Jangan lakukan itu. Bahkan jangan balas pesannya. Selesai sudah, tidak ada lagi!

Para gadis, jika kalian melakukan ini, hentikanlah! Orangtua kalian tidak bertanggung jawab atas ini. Ketika kalian menjadi remaja dan mencapai usia pubertas, dan kalian mulai tertarik dengan lawan jenis, dalam Islam itu artinya kalian sudah dewasa dan harus bertanggung jawab atas diri sendiri. Orangtua tidak lagi bertanggung jawab atas perbuatan kalian.

Jika kalian sekarang berumur sekitar 13 tahun dan kalian meninggal hari ini, maka Allah tidak akan menganggap kalian sebagai anak kecil. Kalian akan diperlakukan sebagai orang dewasa dalam Islam. Agama ini membuat kalian menjadi dewasa pada umur sekitar itu. Pada saat kalian sudah mempunyai “rasa” ketika melihat lawan jenis, itu artinya kalian sudah dewasa. Dan kalian akan diperlakukan oleh Allah seperti seorang dewasa lainnya.

Tahanlah nafsu kalian dan berpeganglah pada standar yang lebih tinggi. Jangan pikir diri kalian sebagai anak-anak lagi. Kalian sudah dewasa (akhil baligh). Maka siapapun yang melakukan pacaran, dia telah berhubungan dengan dosa besar. Bagaimana mungkin seorang Muslim melakukan ini? Bagaimana mungkin seorang Muslim melakukan syirik, membunuh seseorang, atau berzina? Allah berfirman:

“…barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,” (Qs. Al-Furqaan[25]: 68-69)

Pada ayat di atas, Allah berfirman jika seorang Muslim melakukan ketiga hal ini: syirik, membunuh, dan berzina (hubungan terlarang), dia akan mendapat azab dua kali lipat. Jika non-Muslim yang melakukannya, dia juga mendapat azab tapi tidak sampai dobel. Hal ini karena non-Muslim tersebut tidak mengetahui. Tapi kalau seorang Muslim melakukannya, maka azabnya akan dilipatgandakan. Ini karena seorang Muslim tahu bahwa ini adalah dosa-dosa besar namun tetap melakukannya. Dan dia akan tetap diazab dalam keadaan terhina. Hal ini karena syirik, membunuh orang, dan zina adalah dosa yang menghinakan. Ketiganya merenggut kehormatan manusia.

Jadi Allah s.w.t sangat marah pada orang-orang seperti ini. Dan mungkin ada di antara para pembaca yang telah melakukan salah satu atau ketiga dosa ini dalam hidup. Jangan ceritakan hal ini pada orang lain, cukup Allah yang tahu kesalahan kalian. Mungkin ketika kalian mendengar ini langsung berpikir “Ya Allah! Azabnya dilipatgandakan! Apakah masih ada harapan untukku?”

Kemudian setan mendatangi orang-orang seperti itu dan tahu apa yang dilakukannya? Setan berbisik “Kamu pada akhirnya akan masuk neraka, kenapa tidak bersenang-senang saja sekalian? Kamu telah berada di kereta ekspress menuju neraka, maka tinggal lanjutkan saja man! Kamu tidak bisa tertolong lagi.”
Apa yang Allah firmankan dalam ayat selanjutnya? Allah berfirman:

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Furqaan[25]: 70)

Pengecualiannya adalah meskipun kalian melakukan salah satu atau KETIGA-TIGANYA, jika kalian kembali kepada Allah dan menjadi orang beriman lagi, maka seakan-akan kalian menjadi Muslim yang baru lagi. Keimanan kalian menjadi baru lagi. Dan dalam ayatnya, kali ini kalian harus wa’amila ‘amalan shaalihan. Kalian harus sangat serius mengerjakan amal shalih semenjak saat itu. Bunyi ayatnya bukan hanya amilan shaalihan, melainkan wa’amila ‘amalan shaalihan. Dalam bahasa Arab, ini disebut “kata tambahan yang absolut.” Kata ini ditambahkan pada kata kerja untuk menekankannya melebihi kalimat lainnya. Jadi dalam ayat ini Allah berfirman bahwa mereka yang telah bertaubat kepada Allah, mereka memperbaiki iman mereka. Dan setelah memperbaiki iman mereka, kali ini mereka sangat serius beramal baik. Mereka sangat tekun dalam mengerjakan amal baik.

Jika kalian dapat menjadi orang seperti itu, meski kalian telah melakukan suatu hal yang sangat buruk dalam hidup, maka Allah akan mengambil semua dosa kalian dan mengubah dosa itu jadi pahala. Dia tidak hanya menghapuskan dosa kalian. Kita ingin agar Allah menghapuskan dosa kita, mungkin dosa kita sebesar gunung. Dalam kasus ini Allah tidak hanya menghapuskan gunung dosanya, malah Allah akan mengubah segunung dosa menjadi segunung pahala jika kalian bertaubat seperti itu.

Orang yang terjauh dari Allah adalah orang yang telah kehilangan iman. Orang yang melakukan syirik, membunuh orang lain yang tak bersalah, atau berzina, merekalah yang terjauh dari Allah. Dan Allah dalam ayat ini seakan-akan berfirman: “Meskipun mereka begitu jauh dari-Ku, namun mereka kembali padaku. Aku akan melupakan semua dosa mereka dan Aku akan mengubah semua dosa mereka menjadi pahala pada hari kiamat.”Subhanallah. Orang-orang itu begitu jauh dari Allah tapi tetap kembali. Itulah yang Allah inginkan. Allah selalu Maha Pengampun.

Dan setan mendatangi mereka seiring mereka membaca artikel ini, dan setan berkata “Hey dengar, jika kamu melakukan dosa yang sangat besar, dan kemudian bertaubat, kamu bisa melakukan segunung dosa dan mengubahnya menjadi segunung pahala. Jadi kenapa kita tidak melakukan hal yang sangat buruk kemudian bertaubat saja? Karena itu adalah jalan termudah untuk mendapatkan bergunung-gunung pahala.”
Dan ada juga sebagian orang yang berpikir “Mereka sangat kacau dan ketika bertaubat sungguh-sungguh, Allah memberikan mereka begitu banyak pahala. Tapi aku tidak seburuk itu. Aku hanya beberapa kali mencela temanku, aku pernah marah pada ibuku suatu ketika, aku membentak suamiku, aku mengatakan hal jahat pada saudariku. Aku punya dosa juga tapi tidak seburuk itu. Aku tidak pernah membunuh siapapun dan tidak pernah berzina. Jadi apakah taubatku tergolong bagus? Sedangkan mereka melakukan dosa yang besar dan bertaubat, tapi taubatku hanya karena dosa-dosa kecil. Apakah taubatku juga bernilai?”
Allah berfirman dalam ayat berikutnya:

Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Qs. Al-Furqaan[25]: 71)

Jadi bagi siapapun yang bertaubat dan melakukan amal baik, maka itu termasuk taubat yang baik karena berarti dia juga telah kembali kepada Allah dengan taubat yang sangat serius. Dengan kata lain, kalian jangan berkata “Man, aku belum menjadi orang yang sangat buruk! Jadi taubatku tidak sebagus orang yang pernah membunuh 20 nyawa dan kemudian bertaubat.” Tidak, tidak, tidak.

Ingatlah satu hal tentang dosa. Jika dosa itu kalian anggap remeh, maka dosa itu menjadi perkara besar bagi Allah. Namun ketika dosa kalian menjadi perkara besar bagi kalian, dosa itu kalian anggap masalah besar, maka dosa itu adalah perkara kecil bagi Allah. Allah akan mengampuninya dengan mudah jika kalian sangat peduli terhadap dosa kalian. Jika kalian tidak peduli pada dosa meskipun itu dosa kecil, maka dosa itu akan menjadi sangat besar pada hari kiamat. Ini karena kalian tidak peduli. Kepedulian datang dari hati kita dan Allah s.w.t menghakimi apa yang ada dalam hati kita.

======

Sumber: akhwatmuslimah

Tips Agar Tidak Lemas Saat Berpuasa

13:29
 
picture by www.moslemforall.com


BULAN Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, bulan dimana semua umat Muslim diwajibkan melaksanakan puasa, dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Memang tidak hanya menahan nafsu makan dan minum saja. Namun puasa juga menahan hawa nafsu. Ketika seseorang lemas dalam puasanya, maka tubuh akan terasa panas, suhu badan meningkat, dan temperatur dalam darah naik. Sehingga hal ini akan terjadi kekurangan kalori dan nutrisi dalam tubuh. Untuk itu dalam menghadapi lemas tadi, seseorang diwajibkan untuk memperhatikan makanan dan asupan nutrisi dalam tubuh, sehingga hal ini akan menjaga dan memperoleh energi yang cukup untuk menahan lemas.Jenis makanan yang diasup haruslah mencukupi kebutuhan nutrisi seperti karbohidrat, protein, serat, vitamin dan mineral. Berikut ini beberapa tips agar tidak lemas saat berpuasa.
  1. Atur porsi makanan
Menambah porsi makan, tidak akan membuat Anda kenyang lebih lama hingga tiba waktu berbuka puasa. Makan yang berlebihan akan membuat perut kekenyangan dan tidak nyaman. Porsi makan kita seharusnya dibagi secara seimbang pada jam makan tersebut sehingga pencernaan bekerja dengan baik dan tidak mudah lapar. Sayangnya orang Indonesia lebih suka memperbanyak konsumsi makanan pada saat berbuka, sehingga selepas tarawih sudah malas makan. Kebiasaan buruk lain adalah malas makan ketika sahur sehingga asupan nutrisi cenderung sedikit. Pola makan seperti ini mengakibatkan mudah lapar di siang hari.
  1. Cukupi kebutuhan air putih ketika puasa
Tubuh akan kehilangan banyak cairan sehingga menyebabkan dehidrasi. Karenanya ketika sahur dan berbuka harus banyak minum air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang tersebut. Jangan biasakan minum minuman energi ketika puasa, baiknya minum minuman alami seperti air kelapa untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh. Air kelapa memiliki banyak manfaat kesehatan seperti yang diulas pada Manfaat Besar Air Kelapa untuk Kesehatan.
  1. Jangan makan terburu-buru
Makan terlalucepat bisa mengganggu kadar gula dalam darah dan membuat perut terasa cepat lapar beberapa jam setelah sahur. Hal ini karena saat makan dengan cepat, tubuh akan bekerja lebih keras agar nutrisi bisa terserap. Karena proses itulah, nutrisi yang didapatkan tubuh pun kurang sempurna dan akibatnya tubuh cepat lemas.
  1. Perbanyak makan buah dan sayur
Cukupi kebutuhan vitamin dengan mengonsumsi buah dan sayur ketika sayur dan berbuka. Sayur dan buah-buahan akan memberikan banyak energi ketika Anda tidak makan selama berpuasa. Makanlah mendekati waktu imsak agar lebih tahan selama berpuasa. Tidak dianjurkan untuk tidur setelah sahur karena akan menghambat metabolisme dalam tubuh. []

Tips Mencari Wanita Terbaik Menggunakan Matematik Oleh Al Khawarizmi

13:00

Nama sebenar al-Khawarizmi ialah Muhammad Ibn Musa al-khawarizmi. Selain itu beliau dikenali sebagai Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusoff. Al-Khawarizmi telah dikanali di Barat sebagai al-Khawarizmi, al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi, al-Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi.

Beliau telah dilahirkan di Bukhara. Pada tahun 780-850M adalah zaman kegemilangan al-Khawarizmi. al-Khawarizmi telah wafat antara tahun 220 dan 230M. Ada yang mengatakan al-Khawarizmi hidup sekitar awal pertengahan abad ke-9M. Sumber lain menegaskan beliau di Khawarism, Usbekistan pada tahun 194H/780M dan meninggal tahun 266H/850M di Baghdad.

Takdir Allah Tak Pernah Salah

17:00

SEORANG ahli hikmah mengatakan, jika dilihat dari sisi takdir orang yang iri berarti sedang menantang tuhan. Alasannya ialah pertama, membenci nikmat-Nya yang diberikan kepada orang lain. Kedua, merasa bahwa Allah tidak adil dalam membagi karunia. Ketiga, menganggap bahwa Allah bakhil terhadap dirinya. Keempat, menganggap hina hamba Allah dan menyanjung dirinya sendiri dan kelima, lebih menuruti bisikan iblis daripada perintah Allah. Rasa iri dengki tersebut muncul karena melihat orang lain memiliki kelebihan yang tak ia miliki. Bisa jadi berupa harta, bakat atau keahlian tertentu. Kebencian ini menjadi lebih besar bila orang yang didengkinya lebih rendah kedudukannya.

Semua nikmat dan kelebihan yang dimiliki hamba tak lain adalah bagian dari qadha’ dan qadar. Manusia tidak dikatakan beriman jika tidak mengimaninya. Allah memiliki sifat al ‘alim (dzat yang maha tahu) yang menentukan segalanya dengan ilmu-Nya. Karena itu memberi hambanya segala sesuatu yang terbaik baginya. Tugas manusia adalah meyakini sepenuhnya bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan dibagikan sesuai dengan hikmah.

Tidak semua nikmat dapat membuat hamba bersyukur. Ada hamba yang lebih baik miskin daripada kaya. Sebab kemiskinan dapat membuatnya bersyukur bukan kekayaan. Misalnya adalah Qarun, yang dapat beriman tatkala miskin tapi melupakan Allah saat kunci-kunci gudang hartanya tidak sanggup dipanggul tujuh orang. Ada pula yang lebih tepat kaya, karena mampu mengatur kekayaannya sesuai tuntunan agama, misalnya sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Allah berfirman yang artinya,

“Dan Jikalau Allah melampangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentunya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi allah menurunkan apa yang dikehendakinya dengan ukuran. Sesungguhnya dia maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi maha melihat.” (QS. As Syura: 27)

Iri dan dengki membuat diri sendiri lupa terhadap banyaknnya nikmat yang diperoleh dan kelebihan yang dimiliki, hanya saja bentuk dan proporsinya berbeda. Ia lebih fokus pada kekurangannya bukan potensinya. Ia merasa kurang dan lemah, padahal bisa jadi orang yang didengki merasa tak lebih beruntung dari orang yang mendengki. Seperti itulah godaan setan, membisikkan bahwa ‘rumput tetangga lebih hijau’. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa tuntunan nafsu akan terhenti saat yang diinginkan dapat diperoleh. Sebab, tabiat nafsu selalu merasa kurang.

Karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan selalu melihat ke ‘bawah’. Agar kita selalu sadar bahwa ada banyak orang yang lebih sulit keadaannya. Sehingga kita mensyukuri apa yang telah dimiliki.

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan rupa, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Batin akan merasa tenang bila dapat menyeimbangkan antara keinginan dan kenyataan. Dengan bersabar dan bersyukur ujian Allah dapat dilalui dengan mudah. Alkisah, seorang wanita cantik menikah dengan pria yang buruk rupa. Semua orang menyayangkan dan mencibir. Bahkan ada yang berkata bahwa si wanita terkena guna-guna. Tapi hal itu tak dapat membuat suami-istri tersebut goyah. Suatu hari sang istri berkata kepada suaminya, “Suamiku allah memberi ujian kepadamu berupa istri yang cantik, bersyukurlah. Sedangkan aku diuji dengan anda tapi aku bersabar. Kita berdua mendapat pahala.” []

Rahasia Dibalik Senyuman

14:29
JIKA orang bekerja berdasarkan panggilan jiwa maka ia akan mengungguli yang lain. Mari kira buktikan dengan satu bentuk kerja tubuh yang paling sederhana, salah satunya senyum, mungkin terlihat sepele, namun berpura-pura senyum sekalipun tetap dipandang sebagai ungkapan hati bagi yang disenyumi. Senyum ternyata mengandalkan tujuh belas otot wajah, namun dampaknya luar biasa. Sejumlah keuntungan dari senyum adalah penampilan menjadi lebih manis, menawan, menyejukkan, dan terhindar dari penyakit ketegangan.

Dengan tersenyum jantuk akan berdetak normal dan peredarah darah mengalir baik. Bandingkan dengan cemberut yang membutuhkan tarikan 32 otot, mengerutkan dahi yang butuh empat puluh otot, dan marah yang perlu menggerakan 63 otot di wajah. Inilah sebab mengapa orang yang suka cemberut terlihat cepat tua.

Senyum dapat meluluhkan emosi orang yang sedang arah. Senyum adalah bahasa dunia, perhiasan batin yang akan melengkapi ketidaksempurnaan, jalan pintas untuk menyatakan Anda menyukai seseorang, sedekah serta jembatan persahabatan. Apabila kita tersenyum, orang akan tersenyum balik kepada kita. William Shakespeare, “Apa yang Anda kehendaki akan lebih cepat diperoleh dengan senyum daripada memotong dengan pedang”. Pujangga lain menyebutkan “Senyuman itu kelopak, tertawa itu bunga yang sempurna kembangnya”.

Ketika seseorang tersenyum, betapapun sedang tidak bahagiannya orang tersebut, otak mereka akan mengeluarkan sejumlah zat kimia yang tak hanya meningkatkan sistem kekebalan tubuh, tapi sekaligus mengangkat kondisi psikologisnya. Dari satu riset ditemukan ditemukan, biarpun seseorang tersenyum hanya karena diinstruksikan, orang itu akan memperoleh manfaat psikologis yang sama dengan orang yang sungguh-sungguh tersenyum. Sebaliknya orang yang marah hormon adrenalinnya akan meningkat.

Akibatnya, denyut jantung bertambah cepat,tekanan darah pun meninggi. Jika ini sering terjadi, hipertensi, serangan jantung, dan penyakit lain akan mudah datang. Jadi, marah akan menurunkan kualitas organ-organ tubuh.

Demikian pula hakikatnya ibadah. Dengan melangkahkan kaki shalat shubuh ke masjid, maka sekitar 75 triliun sel dalam tubuh kita diajar taat kepada khaliknya. Ini akan menjadikan hati juga ikut taat. Allah mengetahui dengan pasti karakter kita. Taat tak hanya cukup diucapkan di bibir. [rz/islampos]

Sumber: Tangan-tangan yang Dicium Rasul/Syahyuti/Pustaka Hira/Depok/Oktober 2011

MENCARI tapi MENJADILAH

20:38
Sebagian lelaki berkata,"Betapa sulitnya menemukan Wanita Sholehah di zaman sekarang."Dan sebagian wanita juga berkata,"Betapa susahnya mencari Lelaki Sholeh saat ini."

Mungkin pernyataan diatas ada benarnya juga walaupun tidak mutlak.akan tetapi yang lebih penting,alangkah baiknya kalau pernyataan tersebut kita tujukan untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum diucapkan kepada orang lain.

"Sudah menjadi Lelaki Sholehkah diriku? Sudah menjadi Wanita Sholehahkah diriku?"

Kadang kita terlalu sibuk untuk menilai orang lain sehingga kita lupa menilai diri sendiri.Kita terlalu sibuk MENCARI sosok yang menurut kita Sholeh atau Sholehah. Kita terlalu sibuk MENCARI sosok yang baik.Sementara kita sendiri lupa untuk berusaha MENJADI sosok yang Sholeh atau Sholehah.

SEHARUSNYA...Muncul satu pertanyaan,"Sudah pantaskah kita berharap untuk bisa mendapatkan sosok yang Sholeh atau Sholehah?" Jawabannya berpulang pada diri kita masing-masing.Jangan bermimpi mendapatkan Wanita Sholehah kalau masih belum mampu menjadi Lelaki Sholeh.Jangan bermimpi mendapatkan Lelaki Sholeh kalau belum mampu menjadi Wanita Sholehah.

Sebuah solusi yang TEPAT insya ALLAH...Tak perlu bersusah payah untuk MENCARI yang Sholeh atau Sholehah.Tapi MENJADI-LAH Sholeh atau Sholehah terlebih dahulu.....Karena apa?

Karena ALLAH AZZA WA JALLA telah menyiapkan pasangan yang sesuai dengan jati diri kita.Yang sesuai dengan kepribadian kita.Yang sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaan kita.

Sahabat...Ingat,lelaki baik untuk wanita yang baik.begitu juga sebaliknya.Itulah ketetapan-Nya!

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS.An-Nur:26).

Jangan MENCARI tapi MENJADI..jangan mencari yang baik,tapi jadilah yang baik.jangan mencari yang sholeh, tapi jadilah akhwat sholehah..jangan mencari yang solehah, tapi jadilah ikhwan sholeh...karna walaupun kita mencari tapi diri kita tidak menjadi, Allah tidak akan memberikan..namun jika kita menjadi tanpa mencaripun Allah sudah menyiapkan karna untuk masalah jodoh,ALLAH akan memberikan sesuai dengan kepribadian & kadar keimanan kita..

Semakin kita mencari kesempurnaan,semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada,yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan.Sadari bahwa apa yg kita dapatkan hari ini adalah yang terbaik menurut ALLAH & jangan pernah ragu,karena kesadaran itu akan menjadikan kita nikmat menjalani hidup ini...

“Janganlah kamu mencintai seseorang dengan cara yang berlebihan, karena bisa jadi suatu ketika nanti kau akan malah balik membencinya.Begitu pula dengan benci,janganlah kamu membenci seseorang dengan mendalam,karena bisa jadi pada suatu hari nanti kamu malah balik mencintainya” (Ali bin Abi Thalib ra).

Berusaha mencari orang yang baik-baik dan sholeh untuk di jadikan pasangan hidup memang suatu yang baik..Tetapi lebih baik menjadikan diri sendiri orang yang baik terlebih dahulu sebelum memberi selembar kriteria sebagai calon,pendamping,lebih baik kita dulu di utamakan dalam mempelajari Agama Islam dan Mengamalkannya....Berusahalah menjadi baik kepada yang lebih baik..

Jika mau mendapatkan sosok yang sholeh, kurangkan''Agenda mencari yang sholeh".tetapi berusahalah menjadi pribadi sholehah.

Jika inginkan sosok yang sholehah,janganlah cerewet mencari si sholehah,tetapi berusahalah menjadi pribadi yang sholeh.

Bertemu yg sholehah,sholehahnya dia belum tentu kekal.
Bertemu yg sholeh,sholehnya boleh saja ia berubah.

Karena kodratnya hati,bergelombang,pasang surut dan sering terbawa arus,maka dari itu belajar memperbaiki diri, menghindari yang namanya khalwat karena pacaran dan berusaha menjaga diri dalam kesendirian mencari solusi dari setiap permasalahan yang terjadi belajar mendewasakan diri, karena menikah bukan semata mata melepas masa lajang namun dituntut secara cerdas keras dan tuntas di segala aspek untuk mewujudkan keluarga Samara,bukannya tanpa konflik,tapi jadikan setiap masalah sebagai modal kita memperbaiki diri ke depannya,belajar dari dini, manajemen hati, manajemen emosi juga manajemen konflik.

Bulan Ramadhan Penuh Kemuliaan

17:00

Allah Ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu (zaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.
Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”.

Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta’ala utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.

Sungguh Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu muslim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ingin Dapatkan Kemuliaan di Akhirat, Lakukan 5 Hal Ini

08:00
SETIAP manusia tentu menginginkan kemuliaan dari Tuhannya. Begitu pun kita sebagai muslim, tentu ingin meraih kemuliaan itu di akhirat kelak. Dan orang yang mendapat kemuliaan itu tentu akan merasakan keberkahan dalam hidupya di dunia ini. Lalu, harus seperti apa ya jika ingin meraih kemuliaan tersebut?
Al Faqih berkata bahwa barang siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan seperti tersebut di atas, maka ia harus senantiasa mengerjakan lima hal, yaitu:


1. Mencegah dirinya dari semua jenis kemaksiatan. Allah Ta’ala befirman, “Dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya),” (QS. An-Naziat: 40-41).

2. Rela dengan keadaannya yang sangat sederhana. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, “Harga surga itu adalah meninggalkan dunia.”

3. Sangat senang untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah, di mana segala aktifitasnya dikaitkan dengan ketaatan itu dengan harapan bahwa ketaatannya itu akan menjadikan sebab ampunan dan mendapat surga.
Allah SWT berfirman, “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan,” (QS. Az-Zukhruf: 72). Dalam ayat yang lain disebutkan, “Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan,” (QS. As-Sajdah: 17).
Mereka memperoleh surga itu karena mereka sungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

4. Mencintai orang-orang yang shalih dan orang-orang yang baik, di mana dia senantiasa bergaul dan berkumpul bersama mereka, karena ada di antara mereka bila memohon ampun kepada Allah, niscaya akan memberikan syafa’at kepada kawan-kawan dan saudara-saudaranya. Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi SAW, di mana beliau bersabda, “Perbanyaklah saudara, karena sesungguhnya setiap saudara itu bisa memberikan syafaat nanti pada hari kiamat.”

5. Memperbanyak doa dan memohon kepada Allah Ta’ala agar mengaruniai surga dan menjadikan akhir hidupnya baik (husnul khatimah). []

Sumber: Terjemah Tanbihul Ghafilin Peringatan bagi Orang-orang yang Lupa 1/Karya: Abu Laits as Samarqandi/Penerbit: PT Karya Toha Putra Semarang

 Di Post
#Live Report : UKMI Al FATAH UNILAK
#yukngaji
#Bersama UKMI AL FATAH

Bahaya Jawab Telepon ketika Bangun Tidur

15:00
APABILA yang hendak ditelfon adalah seorang wanita dan yang menelfonnya seorang lelaki yang bukan mahramnya. Hendaklah wanita itu tidak berbicara dengan suara yang dibuat – buat seperti dilembut – lembutkan, direndahkan, dan dihalus – haluskan. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT :

“Hai istri – istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al – Ahzab [33] : 32).
Laporkan iklan?

Selain itu, apabila wanita yang sedang tidur dan memaksakan untuk mengangkat telepon dari lelaki yang bukan mahramnya dan berbicara dengan suara yang lirih. Yang akhirnya akan timbul kesan menggoda dan hal – hal yang tidak diinginkan. Dengan suara seperti ini akan memancing seorang laki – laki pada hal negatif. Maka dari itu hindarilah perbuatan seperti ini wahai wanita muslimah! Lebih baik untuk menjaga kehormatan, janganlah mengangkat telepon jika kita belum siap untuk menjawab dan berbicara.

Sumber : Al – Furqon/Lajnah Dakwah Ma’had Al – Furqon Al – Islami/2007.

 Di Post
#Live Report : UKMI Al FATAH UNILAK
#yukngaji
#Bersama UKMI AL FATAH

Laksanakan Sunnah, Lupakan Wajib

08:00
BERBAGAI jenis ibadah dalam Islam itu tergolong dalam berbagai kategori. Ada yang wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram. Perkara wajib berarti harus dan tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan perkara yang haram itu harus ditinggalkan. Dan yang lainnya, boleh untuk dilaksanakan, boleh juga untuk ditinggalkan.

Ada hal yang banyak orang terkecoh, yakni perkara sunnah dan wajib. Banyak orang yang lebih mementingkan yang sunnah ketimbang yang wajib. Padahal, perkara wajib itulah yang seharusnya lebih diutamakan daripada yang sunnah.

Salah satu contoh yang kebanyak orang lakukan ialah melaksanakan shalat tahajud. Shalat tahajud merupakan perkara yang sunnah. Orang tentu memilih untuk melaksanakan shalat tahajud karena memiliki keutamaan yang begitu besar. Namun, tak sedikit orang yang telah melaksanakan shalat tahajud, dalam melaksanakan shalat shubuh, yakni perkara yang wajib itu kesiangan. Nah, ini yang salah di kita. Perkara wajib malah terlalaikan karena rasa kantuk sehabis melaksanakan perkara sunnah di tengah malam.
Laporkan iklan?

Contoh lain misalnya seseorang memperingati malam nisfu sya’ban dengan mengikuti pengajian bersama dengan sanak saudaranya. Namun, dalam kehidupan sehari-hari ia tidak melaksanakan shalat lima waktu atau mungkin jarang. Ia pun gemar melaksanakan maksiat kepada Allah, seperti berzina, memakan dan minum yang haram, serta menggunakan uang haram.

Nah, perkara yang wajib itu seharusnya lebih kita perhatikan daripada perkara yang sunnah. Mengapa demikian? Karena perkara yang wajib akan memberikan tanda berupa dosa jika kita meninggalkannya.

Bukan berarti perkara sunnah juga kita tinggalkan ya. Melainkan, alangkah lebih baik jika berjalan beriringan. Seperti halnya dalam shalat. Wudhu itu perkara yang sunnah. Akan tetapi kita tidak dapat shalat bila dalam keadaan suci, nah shalat itu perkara yang wajibnya. Oleh sebab itu, di sanalah konsep sunnah dan wajib itu memang tidak dapat terlepaskan.

Satu catatan penting bagi kita ialah jika ingin melaksanakan perkara yang sunnah jangan lupakan yang wajib. Dan jika kita melaksanakan perkara yang wajib, lengkapilah dengan yang sunnah. Karena keduanya memberikan pengaruh yang baik dan berarti dalam perjalanan hidup kita di dunia. Ibarat makanan, nasi itu ialah perkara wajib, dan lauknya itulah yang sunnah. Tentu akan terasa nikmat bukan? []

Hidup itu adalah pilihan...!

07:00

life isi choice


Hidup itu adalah pilihan, dan tidak mungkin ada dua pilihan dalam satu waktu, maka dalam hidup kita senantiasa dihadapkan pada pilihan demi pilhan

misalnya dalam waktu 5 menit apa yang mau kita lakukan?

kita bisa memilih mengeluh atau berkarya
memilih untuk mencintai atau membenci
berbuat sesuatu atau hanya mengomentari
habiskan untuk yang dibenci atau yang disayangi
dan ingat, bahwa pilihan tidak bisa lebih dari satu, hanya ada satu pilihan dalam satu waktu, itulah mengapa

yang berkarya tak pernah mengeluh
yang mencintai tak sempat membenci
yang berbuat akan malas berkomentar
yang menyayangi tak punya waktu membenci
yang mendaras Al-Qur'an tak punya kata cacian
yang takut dengan Allah akan aman dari manusia
yang berlaku baik takkan nyaman dengan kejahatan

demikian juga berlaku sebaliknya, nah, jadi jika hidup kita penuh dengan kegagalan, mungkin itulah yang kita pilh, saatnya memilih yang baik, yaitu yang sesuai dengan aturan Allah Swt :)
Di Post
#Live Report : UKMI Al FATAH UNILAK
#yukngaji
#Bersama UKMI AL FATAH

Hidayah itu sudah ada, Kapan di ambil?

13:00

UKMI AL FATAH - Ada di antara kita yang belum sholat, atau belum mau menutup auratnya dengan berjilbab mengatakan "Saya belum bisa melakukannya karena belum mendapat HIDAYAH dari Allah."

Lalu bagaiamana sebenarnya HIDAYAH itu?

Sebenarnya Allah SWT telah menyediakan dua jalan :

"Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (haq dan bathil)."
(QS Al Balad,90:8-10)

Kita dipersilahkan memilih diantara dua jalan tersebut:

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".
(QS Al Kahfi, 18:29).

Orang yang tidak mau mengambil jalan kebenaran bukan berarti dia belum mendapat HIDAYAH tetapi dia tidak mau menerima HIDAYAH...karena Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang ENGGAN,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang ENGGAN”. (HR.Bukhari dalam kitab al-I’tisham) (Hadits no. 6851).

Jadi jelaslah sebenarnya kita dengan akal sehat sudah tahu yang haq (benar) dan bathil dengan akibatnya masing-masing, tetapi kita ENGGAN untuk mentaatinya...

Sehingga perkataan yang tepat bukan BELUM MENDAPAT HIDAYAH...tetapi TIDAK MAU HIDAYAH.


Untuk mendapat HIDAYAH ...Bersyukurlah dengan nikmat PENDENGARAN, PENGLIHATAN dan HATI...

Itulah jalan mendapat HIDAYAH....Gunakanlah untuk memahami mana yang haq dan mana yang bathil ...


"Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur." (QS Al Mulk 67: 23)


Bila kita tidak mau menggunakannya maka pastilah JAHANNAM akan menjadi tempat kita nantinya. Na'uudzubillaahi min dzaalik.


"Dan sungguh-sungguh Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS Al A'raf 7:179)

Dan bila kita sudah mengetahui KEBENARAN (Al Haq) tetapi kita mengingkarinya atau mendustainya dengan terang-terangan maka bisa jadi kita termasuk orang-orang yang tidak akan mendapat HIDAYAH selamanya, kecuali atas kehendak Allah.


"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS Al Baqarah 2:6-7)

Apabila kita sudah mengikuti kebenaran dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya atau telah bertaqwa, barulah HIDAYAH Allah berupa Furqan (Pembeda) atau Nuur (Cahaya) akan diturunkan

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan (Pembeda) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS Al Anfal 8:29)

"Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al Hadiid 57:28)

Dan untuk istiqomah dalam taqwa akan mendapati halangan dan tantangan, bila kita tetap berjihad dalam kebenaran tersebut maka Allah subhanahu wa ta'ala akan terus menunjuki jala-jalan-Nya (selalu memberi HIDAYAH)

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS Al Ankabuut 29:69)

Kami hanya mengingatkan kepada diri sendiri dan kepada orang yang mau mengambil manfaat peringataan ini.

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman " (QS Adz Dzariya,51:55)

Wallahu a'lam bishshowab..

#Live Report : UKMI Al FATAH UNILAK
#yukngaji
#Bersama UKMI AL FATAH

Sesungguhnya Allah Maha Melihat (Bashor)

08:00

UKMI AL FATAH - “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Hadiid 4]

Dia bisa melihat semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di langit yang kelam. Tak ada selembar daun pun yang jatuh ke bumi tanpa Allah melihatnya. Tidak pula daun kering atau basah kecuali Allah melihatnya.

Q.S Al Qasas [28] ayat 71,72, 73

20:00

Ukmi Al Fatah - 71. Katakanlah (muhammad), "Bagaimana pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu..?
Apakah kamu tidak mendengar..?"

72. Katakanlah (muhammad), "Bagaimana pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu istirahatmu..?
Apakah kamu tidak memperhatikan..?"

73. Dan adalah karena Rahmat-nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam harinya dan agar kamu mencari sebagaian Karunia-nya ( pada siang hari ), dan agar kamu bersyukur Kepada-nya.


Sumber : Q.S Al Qasas [28] ayat 71,72, 73

#Live Report : UKMI Al FATAH UNILAK
#yukngaji
#Bersama UKMI AL FATAH

MAKNA SAHABAT MENURUT RASULULLAH SAW

15:00

Ukmi Al Fatah - “Sebaik baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” (Hadis riwayat al-Hakim)

Dari Nu’man bin Basyir r.a., Rasulullah SAW bersabda,
“Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (Hadis riwayat Muslim)

“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (Hadis riwayat Muslim)

“Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati.”

Banyak sekali hadis-hadis tentang kawan/sahabat ini. Ada pula pepatah Melayu mengatakan, “Berkawan biar seribu, berkasih biar satu.” Saya lebih selesa dengan berkawan biar berpada jumlahnya, lihat kualiti, bukan kuantiti. Dan berkasih jangan cuma satu saja, kalau mampu, biar ramai. Kasihkan Allah, Rasul-Nya, pasangan (suami/isteri) , anak-anak, keluarga, kaum kerabat, jiran dan juga kawan atau sahabat. Baru betul! Tak gitu?

Allah SWT mencipta makhluk di atas muka bumi ini berpasang-pasangan. Begitu juga manusia, tidak akan hidup bersendirian. Kita tidak boleh lari dari berkawan dan menjadi kawan kepada seseorang. Jika ada manusia yang tidak suka berkawan atau melarang orang lain daripada berkawan, dia dianggap ganjil dan tidak memenuhi ciri-ciri sebagai seorang manusia yang normal.

Inilah antara hikmah, kenapa Allah SWT mencipta manusia daripada berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa. Firman Allah SWT yang bermaksud,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (dan beramah mesra antara satu sama lain). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (surah al-Hujurat [049] ayat 13)

Dalam Islam, faktor memilih kawan amat dititik-beratkan. Hubungan persahabatan adalah hubungan yang sangat mulia, kerana kawan atau sahabat berperanan dalam membentuk personaliti individu. Ada kawan yang sanggup bersusah-payah dan berkongsi duka bersama kita, dan tidak kurang juga kawan yang nampak muka semasa senang dan hanya sanggup berkongsi kegembiraan sahaja.

Terdapat ayat yang mengisyaratkan mengenai peranan dan pengaruh kawan, antaranya firman-Nya yang bermaksud:

“Wahai orang yang beriman! Bertakwalah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang bersifat benar.” (Surah at-Taubah, ayat 119)

Pendek kata sahabat boleh menentukan corak hidup kita. Justeru, jika salah pilih sahabat kita akan merana dan menerima padahnya. Selari dengan hadis Rasululah SAW yang bermaksud,

“Seseorang itu adalah mengikut agama temannya, oleh itu hendaklah seseorang itu meneliti siapa yang menjadi temannya.” (Hadis riwayat Abu Daud).

Hadis al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy'ari, bermaksud:

“Diumpamakan rakan yang soleh dan rakan yang jahat ialah seperti (berkawan) dengan penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi tidak akan mensia-siakan anda, sama ada anda membelinya atau hanya mendapat bau harumannya. Tukang besi pula boleh menyebabkan rumah anda atau baju anda terbakar, atau mendapat bau busuk.”

Apakah ciri-ciri seorang sahabat yang baik?
 Nasihat yang boleh diikuti dalam membina persahabatan ialah sebagaimana pesanan al-Qamah (seorang sahabat Rasulullah SAW) kepada anaknya,

“Wahai anakku, sekiranya engkau berasa perlu untuk bersahabat dengan seseorang, maka hendaklah engkau memilih orang yang sifatnya seperti berikut.”

1 - Pilihlah sahabat yang suka melindungi sahabatnya, dia adalah hiasan diri kita dan jika kita dalam kekurangan nafkah, dia suka mencukupi keperluan.
2 – Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, dia suka menerima dengan rasa terharu, jikalau ia melihat kebaikan yang ada pada dirimu, dia suka menghitung-hitungka n (menyebutnya) .
3 – Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu dan dianggap sangat berguna, dan jika ia mengetahui mengenai keburukkan dirimu ia suka menutupinya.
4 – Pilihlah sahabat yang jikalau engkau meminta sesuatu daripadanya, pasti ia memberi, jikalau engkau diam, dia mula menyapamu dulu dan jika ada sesuatu kesukaran dan kesedihan yang menimpa dirimu, dia suka membantu dan meringankanmu serta menghiburkanmu.
5 – Pilihlah sahabat yang jikalau engkau berkata, ia suka membenarkan ucapan dan bukan selalu mempercayainya saja. Jikalau engkau mengemukakan sesuatu persoalan yang berat dia suka mengusahakannya dan jika engkau berselisih dengannya, dia suka mengalah untuk kepentinganmu.

Dalam memilih sahabat kita hendaklah memilih sahabat yang baik agar segala matlamat dan hasrat untuk memperjuangkan Islam dapat dilaksanakan bersama-sama sahabat yang mulia.

Sebagai remaja yang terlepas daripada pandangan ayah ibu berhati-hatilah jika memilih kawan. Kerana kawan, kita bahagia tetapi kawan juga boleh menjahanamkan kita. Setelah kita dewasa, kita juga perlu berhati-hati memilih kawan kerana kita tidak mahu kawan-kawan yang melalaikan kita terhadap Maha Pencipta. Kawan yang baik membantu kita ke arah pencapaian matlamat, iaitu kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Kawan yang tidak baik hanya membantutkan usaha kita ke arah itu.

Dalam kitab al-Hikam ada menyebut, “Jangan berkawan dengan seseorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal kelakuannya dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah.” Dalam satu hadis yang bermaksud, “Seseorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, kerana itu tiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan (teman).”

#Live Report : UKMI Al FATAH UNILAK
#yukngaji
#Bersama UKMI AL FATAH

Dahulukan Ilmu Sebelum Amal

08:00

(Nihil pahala dan keutamaan di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Oleh karenanya, jangan mencoba-coba beramal dengan ketidaktahuan)
Ukmi Al FAtah - SESEORANG tidak akan bisa melakukan dengan benar beragam perbuatan wajib, menjauhi perbuatan haram, kemaksiatan, melaksanakan amalan-amalan sunnah, kecuali dengan dasar ilmu. Ilmu menjadi landasan seseorang untuk melaksanakan kewajiban, meninggalkan larangan dan menjauhi kemaksiatan sekaligus mengupayakan mengerjakan sunnah-sunnah dimana semua itu dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Itulah sebabnya, mencari ilmu merupakan sebuah kewajiban. Tidak boleh dipandang sebelah mata, diremehkan atau tidak diacuhkan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم
“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Mengapa wajib? Imam Abdullah menjawab, “Dengan ilmu kita bisa mengetahui bahwa yang wajib adalah wajib, yang sunnah adalah sunnah, yang haram adalah haram. Tidah hanya itu, selain mengetahui hukum tiap perbuatan, seseorang dapat menunaikan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah Subhanahu Wata’ala dengan sebaik-baiknya, karena didasari ilmu.”

Dengan demkian, dimanapun seorang muslim berada ia wajib mencari dan mengamalkan ilmu. Tidak mudah puas dengan sedikit ilmu. Ia harus selalu merasa haus. Ilmu merupakan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pentingnya mencari ilmu tercermin dalam analogi mengendarai kendaraan. Seseorang yang hendak mengendarai kendaraannya haruslah memiliki kecakapan, meliputi cakap dalam memahami masing-masing fungsi dalam kendaraan, mengetahui rambu-rambu lalu-lintas, sehingga bisa mengendarai dengan aman dan selamat. Aman untuk dirinya dan aman untuk orang lain. Tidak sampai menyelakakan diri sendiri lebih-lebih diri orang lain.

Demikian halnya dengan ilmu seputar amal ibadah. Ia wajib melengkapi diri dengan ‘pelindung’ yang namanya ilmu sehingga tidak salah dalam beramal, tidak salah dalam beribadah. Tanpa ilmu dikhawatirkan ia salah beribadah, salah dalam melaksanakan kewajiban. Kesalahan dalam melaksanakan hal-hal yang wajib sama dengan meninggalkan kewajiban. Tidak sah karena tidak dikerjakan sesuai aturan yang sudah ditentukan dalam Islam. Ketika seseorang hanya mengetahui bahwa salat dzuhur 4 takaat, ia salat tanpa tahu kapan pelaksanaannya. Ia terjerumus dalam kesalahan fatal. Ia laksankan salat dzuhur pukul 10 pagi, di luar ketentuan waktu yang ditetapkan.

Tanpa ilmu seseorang hanya menduga-duga dalam melakukan perbuatan. Ia menduga telah melakukan kebaikan padahal kemaksiatan. Ia menduga telah menjauhi kemaksiatan padahal ia masih berkubang di dalamnya. Contoh yang sering terjadi ketika seorang wanita tidak bisa membedakan antara darah haid dan istihadha. Hanya dengan dugaan telah keluar darah haidh padahal istihadhah, ia tidak salat, tidak puasa dan sebagainya. Sebaliknya, menduga darah istihadhah padahal haidh, ia salat, puasa, membaca al-Quran.
Karena itu, syariat yang telah diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasulullah harus dipelajari agar menjadi ilmu yang mendasari setiap perbuatan. Alasan usia sudah menua atau alasan sibuk tidak dapat menjadi pembenaran untuk tidak mencari ilmu. Selama hayat masih dikandung badan maka kewajiban mencari ilmu tetap melekat. Usia bukan halangan dalam mencari ilmu, sama halnya dengan kesibukan. Tidak ada alasan yang bisa menjadi alat membenarkan sikap seseorang untuk lalai menyari ilmu.
Bahaya Amal Tanpa Ilmu

Seseorang yang beribadah tanpa ilmu akan lebih banyak menuai mudharat daripada manfaat. Manfaatnya sedikit justru mudharatnya lebih banyak. Itulah kenyataan yang akan dihadapi oleh setiap pengamal tanpa ilmu. Nol besar. Tidak ada nilainya.
Nihil pahala dan keutamaan di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Oleh karenanya, jangan mencoba-coba beramal dengan ketidaktahuan. Sama halnya orang yang sakit meminum sembarang obat. Tidak cocok dengan satu obat beralih ke obat berikutnya. Hasilnya, bukan kesembuhan tapi malapetaka yang berujung maut.

Tidak sedikit seseorang yang memandang bahwa dirinya melakukan suatu ketaatan padahal sedang bermaksiat. Memandang suatu kemaksiatan bukan sebagai kemaksiatan. Dalam kasus Maulid, misalnya. Sebagian orang mengadakan kegiatan Maulid tidak sesuai dengan cara yang benar. Bermaulid tapi dilakukan dengan hura-hura, menghamburkan biaya dalam jumlah yang tidak wajar untuk membeli mercon, kembang api. Dalihnya untuk syiar.

Padahal di sekelilingnya masih banyak orang yang membutuhkan. Atau bermaulid tapi dengan dangdutan, campur laki dan perempuan. Bermaulid ada tata caranya. Bukan sesuka hati. Bukan dengan hawa nafsu sesuai keinginan diri sendiri. Inilah sedikit contoh yang salah dalam mengungkapkan mahabbah (kecintaan) kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Hal di atas terjadi karena orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak dibekali dengan ilmu. Akibatnya, menyangka telah berbuat kebajikan namun yang didapat justru sebaliknya. Berharap dapat syafaat tapi yang didapat justru ketidakrelaan atas apa yang sudah dikerjakan.

Alkisah, di negeri Maroko pernah hidup seorang ahli ibadah yang dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai orang shalih. Siang-malam ia isi dengan ibadah. Hari-harinya ia hiasi dengan kegiatan ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Suatu hari ia membeli seekor keledai betina. Anehnya keledai itu tidak ia gunakan sama sekali. Hal ini membuat seorang tetangganya diliputi rasa penasaran, “Tuan, mengapa keledainya tidak dimanfaatkan?” Dijawab oleh si ahli ibadah ini, “Memang, aku hanya memanfaatkannya untuk memuaskan nafsu birahiku.” Setelah diusut, ternyata si ahli ibadah ini betul-betul tidak tahu soal larangan keras menyetubuhi hewan. Ketika ia diberi tahu soal hukum menyetubuhi hewan, ia menangis sejadi-jadinya.
Oleh karena itu, setiap muslim wajib memiliki ilmu. Syukur jika ilmu yang telah ia miliki bermanfaat bagi orang lain. Ia ajarkan dan sebarkan kepada sesamanya. Bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus bagi umat. Dikatakan, “Barangsiapa memiliki ilmu, lalu ia amalkan dan ajarkan, ia akan dikenal oleh para penduduk langit.” Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah Subhanahu Wata’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Subhanahu Wata’ala Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Mujadilah [58] : 11).
Abdullah bin Abbas RA mengatakan orang yang memiliki ilmu dibanding orang yang tidak memilikinya, perbandingannya 700 derajat. Derajat pertama ke derajat kedua menempuh perjalan 500 tahun lamanya.
Betapa mulia orang yang berilmu yang ilmunya bemanfaat. Di dunia dan di akhirat ia hidup mulia mendapat kedudukan terhormat di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Dalam ayat lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhanya hanya orang yang berakal sehat  yang dapat menerima pelajaran.” (Qs. az-Zumar [39] : 9).

Bunyi ayat ini bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Ayat ini merupakan sindiran bahwa tidak ada kesamaan posisi orang yang berilmu dengan orang yang jahil. Wali songo yang telah wafat ribuan tahun silam masih seperti orang hidup. Peziarahnya banyak di setiap saat. Ini terjadi berkat ilmu yang mereka miliki. Memang sangat beda antara orang yang berilmu dengan yang tidak.
Karena itu, semangat mencari ilmu merupakan tanda kesuksesan. Mencari ilmu di sepanjang waktu. Tidak ada perasaan lelah. Selalu haus dalam mendulang ilmu dalam segala kondisi. Maka, mari kita siapkan anak-anak kita menjadi sosok berilmu. Cakap dalam membaca al-Quran, mengetahui tata cara ibadah yang sebenarnya, menghafal hadits, paham fiqih dan ilmu-ilmu agama lainnya. Sejak dini, buat program pengentasan kejahilan dari setiap anggota keluarga dalam urusan agama. Jadikan ilmu sebagai hal pertama di setiap langkah. Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Dia berikan pemahaman tentang urusan agamanya.” (HR. Bukhari-Muslim).*

#Live Report : UKMI Al FATAH UNILAK
#yukngaji
#Bersama UKMI AL FATAH

Secukupnya Tapi Mendalam...

12:00
Ukmi Al Fatah - Judul di atas adalah sikap Rasulullah ketika terjadi peristiwa yang ibarat danau, airnya telah dibuat beriak oleh satu peristiwa yang terjadi. Para sahabat di sekeliling beliau, siap memberikan respon dan reaksi, tapi respon dan reaksi yang paling baik datang dari Rasulullah. Tidak kurang, tidak lebih, secukupnya tapi mendalam, kena.

Satu hari, di Masjid Nabi, Rasulullah dan para sahabatnya sedang berkumpul dalam halaqah, majelis ilmu, membahas sesuatu. Masjid Nabi, lantainya masih pasir, tak ada ubin, apalagi sajadah. Dan mereka duduk, shalat, ruku’ dan sujud di atasnya.

Ketika kelompok manusia terbaik ini berkumpul dan mempelajari ilmu dan perintah Allah, tiba-tiba datang seorang lelaki Badui, lelaki desa nan udik ke dalam Masjid Nabi. Kita semua mengetahui kisahnya. Sebagian besar kaum Muslimin bahkan telah hapal ujung ceritanya. Tapi mari, sekali lagi kita belajar dari sudut pandang yang sedikit lain.
 
Copyright © UKMI Al-Fatah. Designed by OddThemes & Best Wordpress Themes 2018