Syabab.Com
- Sejak lepas dari penjajahan fisik 69 tahun lalu, negeri ini menerapkan sistem
demokrasi terpimpin ala Orde Lama, demokrasi kapitalisme ala Orde Baru, lalu
demokrasi kapitalisme neoliberal sejak Reformasi hingga sekarang. Namun, negeri
ini masih dililit segudang problem di berbagai bidang.
Orang miskin 27,73 juta (10,96%) orang (BPS September 2014).
Pengangguran terbuka 7.244.905 orang (BPS Agustus 2014).
Utang Pemerintah Pusat hingga Februari 2015 Rp 2.744,36
triliun. (Profil Utang Pemerintah Pusat Maret 2015). Artinya, (BPS September
2014), negeri berpenduduk 253 juta ini terbebani utang Rp 10,85 juta/orang.
Subsidi BBM dihapus. Subsidi listrik juga dicabut (kecuali
gol. 450 VA dan 900 VA).
Rakyat menanggung sendiri pengobatan mereka. Negara
mengalihkan kewajibannya ke pundak rakyat melalui BPJS. Jutaan anak mengalami
malnutrisi. Jutaan anak putus sekolah.
Lebih dari 2,5 juta aborsi pertahun. Pengguna narkoba 4 juta
lebih. HIV-AIDS tersebar di 381 (76%) kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Hingga September 2014, total kasus HIV-AIDS mencapai 206.095 kasus. (Sistem
Informasi HIV-AIDS & IMS [SIHA]-Ditjen P2PL Kemenkes).
Kriminalitas tinggi. Korupsi makin parah dan sistemik.
Ratusan pejabat, penguasa dan anggota legislatif terjerat kasus korupsi.
Pembiayaan APBN bertumpu pada pajak dan utang. Target pajak
di RAPBN-P 2015 dinaikkan menjadi Rp 1.489,3 triliun. Untuk mencapai itu, obyek
pajak baik orang atau barang dan jasa akan diperluas. Pajak juga akan makin
tinggi. Beban rakyat pun akan makin berat.
Di sisi lain, SDA berlimpah negeri ini justru diserahkan
kepada swasta dan asing. Migas sekitar 80% dikuasai asing. Pertambangan 75,39%
dikuasai asing. Sekitar 60% industri penting dan strategis juga telah dikuasai
investor asing seperti perbankan, telekomunikasi, elektronika, asuransi dan
pasar modal.
Berbagai problem di pelbagai bidang itu menunjukkan problem
sistemik-ideologis. Semua itu merupakan fasad (kerusakan). Allah SWT
berfirman:
]ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ[
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh
perbuatan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat
perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).
Ali ash-Shabuni dalam Shafwah at-Tafâsîr menjelaskan,
“bima kasabat aydi an-nas, yakni disebabkan oleh berbagai kemaksiatan
dan dosa-dosa mereka.” Kemaksiataan itu bermuara pada penerapan sistem ideologi
yang menyalahi system-ideologi Islam.
Solusinya dijelaskan dalam ayat tersebut. Asy-Syaukani dalam
Fathu al-Qadîr menjelaskan, liyudzîqahum ba’dha al-ladzî
‘amilû, yakni agar Allah menimpakan sanksi sebagian perbuatan mereka atau
balasan sebagian perbuatan mereka; la’allahum yarji’ûn, yakni agar
mereka kembali dari berbagai kemaksiatan mereka dan bertobat kepada Allah SWT.”
Bertobat dari kemaksiatan sistemik-ideologis tidak lain
adalah dengan kembali pada system-ideologi Islam, yakni dengan menerapkan
syariah Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan di bawah sistem
Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.
WalLâh a’lam bi ash-shawâb.
sumber ; [htipress/syabab.com]
#Live Report : www.facebook.com / UKMI AL- FATAH UNILAK
#yukngaji
#yukngaji

Post a Comment