Namun harus diingat, bahwa pada bulan
Rajab pula, persisnya pada tahun 1342 Hijirah (94 tahun lalu) Khilafah
Utsmani yang berpusat di Turki diruntuhkan oleh tangan-tangan kafir
penjajah. Peristiwa ini kemudian menjadi pangkal dari timbulnya berbagai
malapetaka (ummul jara’im) yang menimpa kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk di negeri ini.
Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi
seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan syariah Islam dan
mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia. Dalam sejarahnya yang
membentang lebih dari 1300 tahun, Khilafah secara praktis telah berhasil
menaungi Dunia Islam, mampu menyatukan umat Islam seluruh dunia dan
menerapkan syariah Islam secara kaffah sedemikian sehingga kerahmatan yang dijanjikan benar-benar dapat diwujudkan.
Syariah dan Khilafah bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang. Tepat sekali ketika Imam Ghazali dalam kitab Al-Iqtishad fi al-I’tiqad menggambarkan eratnya hubungan antara syariah dan khilafah dengan menyatakan, “Ad-Din uss[un] wa ash-shultan haris[un] (Agama adalah tiang dan kekuasaan adalah penjaga).”
“Wa ma la ussa lahu fa mahdumun wa ma la harisa lahu fa dha’i (Apa saja yang tidak ada asasnya akan roboh dan apa saja yang tidak ada penjaganya akan hilang),” lanjut al-Ghazali.
Menyadari arti pentingnya Khilafah dan betapa vitalnya bagi ‘izzul Islam wal muslimin,
umat Islam tidak pernah tinggal diam. Karena itu sejak masa
keruntuhannya, umat Islam, termasuk Hizbut Tahrir, terus berjuang keras
untuk menegakkan kembali payung Dunia Islam itu. Perjuangan itu tidak
pernah berhenti hingga sekarang.
Berkenaan dengan itu, Juru Bicara Hizbut
Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto, dalam pernyataan persnya
menjelaskan bahwa sepanjang bulan Mei 2015, bertepatan dengan bulan
Rajab 1436 H, HTI menyelenggarakan Rapat dan Pawai Akbar (RPA) di 36
kota di seluruh Indonesia. Puncaknya pada 30 Mei di Stadion Gelora Bung
Karno dilanjutkan dengan pawai di sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta yang
insya Allah akan diikuti oleh sekitar 150 ribu peserta.
Dengan tajuk “Bersama Umat Tegakkan
Khilafah” RPA diselenggarakan sebagai medium untuk mengokohkan visi dan
misi perjuangan umat untuk tegaknya kembali kehidupan Islam dalam
Khilafah. Visi dan misi ini penting untuk terus ditegaskan dan
dikokohkan apalagi di tengah arus besar yang tengah mengancam
keselamatan negeri ini, yakni neoliberalisme dan neoimperialisme.
Hizbut Tahrir meyakini, keruntuhan
Khilafah dulu menjadi pangkal hancurnya Dunia Islam dan timbulnya
berbagai malapetaka yang menimpa Dunia Islam. Karena itu bangkitnya
kembali Dunia Islam dari keterpurukannya pun hanya mungkin melalui
tegaknya kembali Khilafah itu. Khilafahlah yang akan menyatukan kaum
Muslim di seluruh dunia, menerapkan syariah secara kaffah dan
menghadapi segala bentuk ancaman, khususnya neoliberalisme dan
neoimperialisme. Hanya dengan itu negeri ini akan benar-benar akan
menjadi baldah thayyibah wa rabbun ghafur.
Berkenaan dengan acara tersebut, Ismail
Yusanto juga menyampaikan seruan HTI kepada seluruh umat Islam,
khususnya para pimpinan ormas, orpol, ulama, wakil rakyat, anggota
TNI/Polri, wartawan, cendekiawan, para pengusaha, para pekerja serta
para pemuda dan mahasiswa. Hizbut Tahrir menyerukan kepasa seluruh
komponen umat itu agar secara sungguh-sungguh mengamalkan syariah Islam,
berjuang bagi tegaknya syariah Islam di negeri ini serta secara sengaja
menempatkan perjuangan penegakan syariah sebagai agenda utama mereka.
Sesungguhnya mengamalkan syariah dalam
kehidupan pribadi dan menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara merupakan kewajiban setiap Muslim, juga merupakan realisasi
dari ibadah kepada Allah SWT. Karena itu Hizbut Tahrir mengundang
masyarakat untuk hadir dalam acara itu. Jadilah saksi bagi bergeloranya
keinginan umat menuju terwujudnya kembali kehidupan Islam di bawah
naungan Khilafah yang akan menerapkan syariah secara kaffah.
Semoga Allah SWT memberikan pahala yang
besar kepada siapapun yang berpartisipasi dalam acara umat ini dan
menyegerakan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.
HasbunalLah wa ni’ma al-Wakil, ni’ma al-Mawla wa ni’ma an-Nashir [Farid Wadjdi]
Post a Comment